Hujan mulai reda dan langit pun kembali terang. Dari balik jendela aku melihat sebentuk garis warna-warni di batas langit. Hei.. ada pelangi… Indah bukan, oke, kita ambil fotonya dulu..
Image by Daniel Roberts from Pixabay
“Isaac Newton (1642-1727) adalah orang yang menemukan bahwa cahaya putih merupakan percampuran dari berbagai warna”
![]() |
| image source |
Letakkan cermin di dalam air dengan sudut 45o. Arahkan senter ke permukaan air. Sinar yang masuk ke dalam air akan dipantulkan oleh cermin. Lalu gunakan kertas putih untuk menangkap warna hasil pembiasan. Voilla….ada Pelangi di depan matamu. Oh ya, kamu juga bisa menggunakan semprotan air untuk membuat Pelangi.
Pelangi tersusun dari tujuh warna, merah, oranye, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Urutan warnanya akan selalu sama meskipun lebar pita warnanya dapat berbeda-beda. Intensitas warna Pelangi dipengaruhi oleh ukuran tetesan air. Tetesan yang besar menghasilkan Pelangi yang jelas dan terang. Tetesan yang kecil menghasilkan warna yang saling tumpang tindih dan hampir berwarna putih.
![]() |
| Pelangi yang terbentuk dari semprotan air created by wirestock - www.freepik.com |
Bisakah kita melihat Pelangi dalam bentuk lingkaran penuh? Tentu saja bisa,
karena aslinya Pelangi memang berupa lingkaran. Tetesan air berbentuk bulat
dan permukaan dalamnya yang membiaskan cahaya berbentuk lengkungan. tapi
sayangnya batas langit menghalangi separuh dari lingkaran Pelangi sehingga
kita hanya bisa melihat separuhnya saja. Pada saat senja, Pelangi berbentuk
semisirkuler.
“Pelangi terlama terlihat di Taiwan pada tanggal 30 November 1997 selama 8 jam 58 menit”
Seberapa besar kemungkinan kita bisa melihat Pelangi? Itu bergantung pada lanskap dan sudut matahari. Sinar matahari masuk dan meninggalkan tetes air pada sudut 42o. Di atas sudut tersebut Pelangi tidak akan terbentuk.



